Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta

Tentang Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta

Terletak di bagian selatan Jawa berbatasan dengan Samudra Hindia di bagian selatan dan berbatasan daratan dengan wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta istimewa dalam beberapa hal, baik secara historis, budaya, pendidikan, dan geografis.

Secara historis, wilayah ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap awal pembentukan Republik Indonesia. Secara budaya, wilayah ini kaya akan budaya hidup masyarakat, berbagai nilai kehidupan berjalan secara harmonis. Secara pendidikan, wilayah ini memberikan pelayanan kepada generasi muda negara ini dengan menyediakan pendidikan berkualitas yang lengkap. Dalam hal pariwisata, Daerah Istimewa Yogyakarta juga memiliki banyak tempat menarik. Poin-poin ini akan dijabarkan satu per satu di bawah ini.

Sejarah

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wilayah yang formasinya terkait erat dengan pembentukan awal Republik / rɪˈpʌblɪk / Indonesia. Nama daerah khusus ini diberikan oleh Presiden Indonesia pertama, Soekarno, karena dukungan penuh yang dipinjamkan ke Republik Indonesia oleh Sultan Hamengku Buwono IX, yang saat itu merupakan Raja Kerajaan Mataram bersama dengan KGPAA Paku Alam VIII, penguasa Kadipaten Paku Alam. Baik Kerajaan dan Kadipaten telah lama berdaulat, jauh sebelum negara ini merdeka pada tahun 1945.

Dukungan pertama dan paling penting diberikan dalam bentuk deklarasi untuk mengintegrasikan kedua kerajaan ke Republik hanya dalam waktu dua minggu setelah proklamasi kemerdekaan. Ketika Republik terancam oleh serangan agresif dari Belanda dan sekutunya, Sultan Hamengku Buwono IX mengundang Pemerintah Indonesia untuk pindah ke Kerajaan ini dan memikul seluruh anggaran untuk menjalankan Republik. Dukungan penuh ini dinikmati selama sekitar empat tahun hingga 1949 ketika PBB mengakui kemerdekaan negara tersebut. Jika tidak menerima dukungan seperti itu, Republik yang rapuh tidak akan selamat. Menyadari jasa besar yang telah mengamankan keberadaan negara, Presiden membuat keputusan untuk menetapkan bahwa kedua Kerajaan akan dibentuk sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Gubernur dan Sri Paduka Paku Alam sebagai Wakil Gubernur, serta Daerah Istimewa yang sama dengan provinsi, meskipun wilayahnya jauh lebih kecil dibandingkan provinsi lain. Provinsi terkecil di negara ini, namun dengan dampak besar pada negara besar dengan 260 juta orang sebagai penduduknya.

Budaya

Daerah Istimewa Yogyakarta istimewa tidak hanya karena para pemimpin puncak pemerintahannya, tetapi juga kekayaan budayanya. Budaya di wilayah ini berkembang secara berkelanjutan sebagaimana dibuktikan dalam karya seni dan organisasi. Di wilayah ini kita dapat menemukan banyak jenis seni — tarian, lukisan, musik tradisional, dan kerajinan tangan. Seni-seni ini mulai dari jenis tradisional, modern hingga klasik. Pelestarian dan pengembangannya dipastikan melalui organisasi seni yang jumlahnya mencapai lebih dari 5.000 orang.

Dengan kata lain, organisasi seni di wilayah ini telah membantu pelestarian dan pengembangannya. Selanjutnya didukung oleh Yogyakarta Art Festival tahunan (sejak 1989) yang telah menarik ribuan pengunjung dari berbagai penjuru negeri, dan Biennial Yogyakarta International Art Festival (sejak 2015) yang telah menarik perhatian seniman dari berbagai negara di dunia. Lebih penting lagi, di wilayah ini orang-orang mengamati toleransi, kedamaian, saling menghormati, dan ketulusan, yang memang merupakan nilai-nilai yang diharapkan umat manusia. Begitu seseorang menginjak kakinya di Daerah Istimewa ini, ia diperlakukan sebagai bagian dari komunitas, dan karenanya akan merasa betah. Semua ini telah membuat Yogyakarta dikenal sebagai Daerah Budaya.

Pendidikan

Daerah Istimewa Yogyakarta juga kuat dalam pendidikan, baik dalam akses maupun kualitas. Orang-orang telah menikmati akses luar biasa ke semua tingkat pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga pendidikan tinggi. Di daerah istimewa ini, pendidikan pra-sekolah diberikan melalui 2.118 taman kanak-kanak, pendidikan dasar hingga 2.028 sekolah dasar, pendidikan menengah bawah hingga 439 sekolah menengah pertama, pendidikan akademik menengah atas hingga 162 sekolah menengah atas, dan pendidikan kejuruan menengah melalui 218 sekolah menengah atas sekolah kejuruan, dan pendidikan tinggi melalui 107 lembaga pendidikan tinggi dari berbagai jenis seperti akademi, perguruan tinggi, universitas. Pendidikan tersier, dan sampai tingkat tertentu pendidikan menengah, di daerah istimewa ini dapat diakses tidak hanya oleh siswa dari Yogyakarta, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari provinsi yang berbeda dari seluruh Indonesia. Para siswa juga dapat menikmati layanan yang disediakan oleh lebih dari 50 museum yang tersebar di seluruh Daerah Istimewa ini. Semua ini menjadikan daerah khusus ini sebagai pusat pembelajaran.

Situs Warisan

Dari semua situs warisan budaya Indonesia, sembilan situs terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana dinyatakan oleh Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam. Sembilan situs tersebut adalah sebagai berikut: (1) Eosen batu kapur di Gamping (Kabupaten Sleman), (2) Bantal Lava di Berbah (Sleman), (3) Endapan Vulkanik pra-sejarah di Candi Ijo, (4) Prambanan (Sleman), (5) Bukit Pasir di Pantai Parangtritis (Kabupaten Bantul), (6) Gua Kiskendo dan bekas lokasi penambangan mangan di Kleripan (Kabupaten Kulonprogo), (7) Gunung berapi prasejarah di Nglanggeran (Kabupaten Gunungkidul), (8) Pantai Wediombo-Siung (Gunungkidul), dan (9) Situs Bioturbasi di Kalingalang (Gunungkidul). Yang paling tidak biasa adalah Lava Bantal di Berbah (Sleman) yang merupakan batu hitam besar dan kasar yang terletak di tepi Sungai Dengkeng yang sempit. Gunung berapi prasejarah di Nglanggeran (Kabupaten Gunungkidul) telah dikembangkan sebagai tujuan wisata.

Tempat Wisata

Daerah Istimewa ini juga terkenal akan pariwisatanya. Berbagai tempat, menarik pengunjung dari seluruh negeri dan luar negeri. Ini termasuk beberapa pantai, gua, pemandangan indah di lereng Gunung Merapi, agrowisata, dan situs budaya dan bersejarah. Dari situs budaya dan bersejarah, satu telah dinyatakan sebagai situs Warisan Budaya Dunia, yaitu Candi Prambanan. Selain itu, artefak budaya dan pertunjukan seni juga menarik pengunjung. Dari pertunjukan seni, wayang atau wayang kulit juga telah dinyatakan sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan. Warisan budaya takbenda lainnya yang ditemukan di daerah istimewa ini adalah Batik dan Keris.Semua ini telah membuat Yogyakarta dikenal sebagai daerah wisata.